tri 's Site

Blog EntryTingkatan Usia Petani Dalam BerinovasiMar 3, '09 4:32 AM
for everyone

Oleh: Tri Wahyu Cahyono

Pada survey ini, tingkatan inovasi yang diukur adalah inovasi di bidang dasar budidaya hingga panen seperti penggunaan mesin traktor, benih unggul (hibrida), alternatif irigasi teknis seperti pompa air, pupuk organik, pestisida organik dan mesin panen. Dari standart tersebut hanya 42 % petani yang berinovasi sedangkan sisanya hanya menggunakan sebagian standart inovasi tersebut. Dari 42 % tersebut dikelompokkan berdasarkan usia yang melakukan inovasi. Petani usia diatas 45 tahun menempati persentase tertinggi yaitu sebesar 19 %, kemudian petani dengan usia 35-45 tahun sebesar 14 %, usia 25-35 tahun sebesar 8% dan dibawah usia 25 tahun hanyalah 1 % saja. 

Selain itu, jika dilihat dari tingkat pendidikan, terdapat 36,2% petani lulusan SD,  35,4% lulusan SLTP, 24% lulusan SMU dan 4,4% lulusan Peruruan Tinggi. Masih dominannya jumlah petani kita yang berpendidikan rendah (SD-SLTP) mencerminkan rendahnya tingkat pendidikan SDM (Sumber Daya Manusia) petani kita. Kondisi ini diyakini akan berimbas pada tingkat inovasi teknologi dan daya saing pertanian Indonesia. 

Ada dua karakteristik desa miskin, yaitu terbatasnya aset produktif seperti lahan dan kapital serta kualitas sumberdaya manusia sebagian besar sangat rendah. Kedua karakteristik tersebut diduga merupakan kendala dalam mengaplikasi suatu teknologi atau pemanfaatan secara optimal kesempatan-kesempatan ekonomi

Rendahnya persentase usia muda (usia produktif) menunjukkan bahwa regenarasi petani berjalan lambat. Petani masih didominasi oleh usia tua karena trend anak muda sekarang lebih senang bekerja di luar bidang pertanian. Anak-anak para petani biasanya diarahkan untuk bekerja di luar bidang pertanian, dan pertanian hanyalah untuk membantu orangtuanya saja. Anak-anak petani akan terjun ke pertanian secara penuh jika sudah mendapat warisan lahan atau sawah dari orangtuanya. Hal ini mungkin tidak lepas dari political will pemerintah Indonesia beberapa dekade terdahulu yang masih menomorduakan pertanian dibandingkan pembangunan bidang lain (industri misalnya) sehingga bidang pertanian sekarang ini bukanlah sesuatu hal yang ‘menjanjikan’.

Tantangan di bidang pertanian salah satunya adalah regenerasi yang lambat dan kecenderungan untuk bekerja di bidang non pertanian. Dengan kondisi realitas petani di Indonesia maka diperlukan kebijakan yang bisa meningkatkan ketertarikan di bidang pertanian. Salah satu kebijakan menteri Anton apriyantono adalah merekrut lulusan sekolah pertanian untuk menjadi penyuluh.

Penerimaan dan penerapan inovasi pertanian di bidang benih unggul dan traktor bisa diterima dan diaplikasikan dengan baik di berbagai jenis usia. Sosialisasi dan program yang baik dari pemerintah mengenai pentingnya benih unggul, meningkatkan kesadaran petani untuk menggunakan benih jenis unggul dalam bercocok tanam. Program subsidi benih unggul gratis kepada petani, meningkatkan hasil yang cukup baik, sehingga petani bisa meningkatkan hasil panennya . Dan hal ini juga yang memicu untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya benih unggul.


Add a Comment
   
© 2009 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · Contact · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.